Oleh: Dr. H. Idris Amir, S.HI, M.HI
(Sekretaris Ansor University, PC GP Ansor Sampang)
Peta sosiologis dan spiritual Nahdlatul Ulama (NU) di Pulau Madura tidak pernah bisa dilepaskan dari episentrum sejarahnya. Akar kuat ini bermuara pada pengaruh besar Syaikhona Kholil Bangkalan, mahaguru yang melahirkan para pendiri dan tokoh kunci NU, termasuk Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Sebagai jangkar sanad keilmuan, mayoritas ulama dan kiai di Madura merupakan murid atau penerus langsung garis intelektual Syaikhona Kholil. Tidak heran jika kultur, tradisi, dan ajaran NU sangat cepat meresap, mendarah daging, dan menjadi identitas tak terpisahkan dari denyut nadi masyarakat berjuluk Pulau Garam ini.
Di bawah kendali jaringan pondok pesantren dan para kiai lokal, kehidupan keagamaan di Madura berjalan dengan kokoh. Praktik amaliah kultural khas NU seperti tahlilan, maulid Nabi, ziarah kubur, hingga qunut saat salat Subuh bukan sekadar ritus musiman, melainkan ibadah harian yang dijaga ketat hingga ke pelosok desa. benteng pertahanan NU di Madura tetap tidak tergoyahkan. Hubungan kultural yang intim antara struktur kiai dan jamaah (akar rumput) adalah kunci utamanya.
Denyut Akar Rumput dan Pengawal Amaliah
Eksistensi NU di Madura saat ini bergerak secara masif dan terstruktur hingga ke lapisan terbawah. Pengaderan pemuda milenial melalui pelatihan Banser NU di tiap kecamatan serta pergerakan Gerakan Pemuda Ansor belakangan ini kian nyata dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Pengajian dan ceramah rutin bulanan yang dipelopori para kiai pesantren dilakukan secara ikhlas, mendatangi rumah-rumah warga secara bergiliran tanpa sekat.
Di balik itu semua, ada peran vital para ‘kiai kampung’. Mereka adalah kiai akar rumput yang bersentuhan langsung dengan umat demi menjaga marwah Ahlussunnah wal Jamaah. Jauh dari gemerlap panggung media, tanpa embel-embel bayaran maupun gaji bulanan, mereka adalah sosok-sosok ikhlas yang lebih memilih terkenal di langit daripada di bumi.
Tradisi tahlil dan selawatan harian terus menggema di sudut-sudut kampung berkat konsistensi para kiai, ibu nyai, dan jajaran Muslimat NU setempat. Ruang-ruang perkumpulan masyarakat, bahkan kelompok tani sekalipun, diwadahi oleh tradisi NU melalui majelis Yasinan. Dengan basis kultural sekuat ini, segala bentuk infiltrasi atau teror ideologis yang mencoba meruntuhkan amaliah NU di Madura dipastikan akan selalu menemui jalan buntu.
Kekuatan spiritual ini diimbangi pula oleh tradisi intelektual yang dinamis. Forum Bahtsul Masail tidak lagi eksklusif di dalam dinding pesantren, melainkan konsisten digelar secara bergiliran di masjid-masjid pelosok daerah. Forum ini menjadi amunisi segar dalam memperkokoh amaliah NU, di mana para kiai sepuh, kiai muda, santri, hingga kaum muda berkumpul dan menunjukkan antusiasme keilmuan yang luar biasa.
Representasi Madura di Menara Suara PBNU
Akar kultural yang kuat di tingkat bawah tersebut kini mewujud secara struktural di tingkat pusat. Dalam susunan pengurus harian Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031 yang resmi diumumkan oleh Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), representasi tokoh dan intelektual berdarah Madura menempati posisi-posisi krusial dan strategis. Khidmah nyata dan komitmen keilmuan para tokoh keturunan Madura ini tersebar secara merata di jajaran puncak PBNU.
Di jajaran kepemimpinan tertinggi Syuriyah, Madura menempatkan salah satu putra terbaiknya, KH. Afifuddin Muhajir, yang diamanahi posisi terhormat sebagai Wakil Rais Aam PBNU. Kehadirannya didampingi oleh figur-figur kharismatik Madura lainnya di jajaran Rais Syuriyah, seperti KH. Mudatsir Badruddin (Pengasuh Pondok Pesantren Panyeppen, Pamekasan), KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy, Ph.D. (Pengasuh PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo berdarah Madura), dan KH. Imam Buchori Cholil yang merupakan cicit langsung dari Syaikhona Kholil Bangkalan. Tak ketinggalan, KH. Muhammad Cholil Nafis, Lc., MA., Ph.D., ulama muda asal Sampang yang juga Ketua Bidang Dakwah MUI Pusat, turut memperkuat barisan pengawal hukum Islam (Syuriyah) ini.
Sementara itu, di menara pengawas tertinggi organisasi, pakar hukum tata negara sekaligus tokoh nasional kelahiran Sampang, Prof. Dr. Moh. Mahfud MD, kembali dipercaya memperkuat barisan Mustasyar (Dewan Penasihat Tertinggi) PBNU. Kehadiran tokoh nasional sekaliber Mahfud MD memberikan bobot strategis tersendiri bagi marwah PBNU di kancah kebangsaan.
Gerbong eksekutif atau Tanfidziyah PBNU juga diwarnai oleh determinasi tokoh-tokoh asal Pulau Garam. H. Umarsyah, S.IP., tokoh senior kelahiran Sumenep yang kaya pengalaman, kini mengemban amanah sebagai salah satu Ketua PBNU. Langkah taktis Tanfidziyah ini diperkuat oleh barisan intelektual muda di jajaran Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PBNU yang diisi oleh Dr. KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits (Ra Mama) dari PP Annuqayah Sumenep, akademisi H. Fathurrohman Taufiq, serta tokoh muda potensial Itkonul Hakim.
Menatap Babak Baru Kolaborasi
Masuknya gerbong ulama sepuh, tokoh nasional, hingga intelektual muda Madura ke dalam struktur PBNU masa khidmah 2026-2031 di bawah nakhoda Gus Kikin menandai babak baru kolaborasi strategis. Komposisi ini mencerminkan pengakuan nyata atas kontribusi historis dan geopolitik Islam Madura yang tidak pernah lelah mengawal NKRI dan kemurnian ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.
Kombinasi antara militansi kiai kampung di akar rumput Madura dengan kecakapan para tokohnya di jajaran elit PBNU akan menjadi energi besar bagi kepengurusan Gus Kikin. Di bawah prinsip Qanun Asasi, Madura tidak hanya menyumbang kuantitas jamaah secara demografis, tetapi juga mempersembahkan kualitas pemikiran serta keteguhan ideologis demi kejayaan keumatan dan kebangsaan di masa depan. wallahu a’lam bissowab